UINSA Gelar Konferensi Internasional Bid’ah dan Ketersesatan

UINSA Gelar Konferensi Internasional Bid’ah dan Ketersesatan

SURABAYA.(SLI). Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya melalui Fakultas Ushuluddin dan Filsafat menggelar seminar internasional tentang Bid’ah dan Ketersesatan, Rabu (16/10/2019). Dihadiri beberapa narasumber asing. Seperti, Prof. Nadirsyah Hosen LLM, MA (Hons), Ph.D dari Monash University Australia. DR. Abdul Majid Hakimollohi dari Al-Mustofa Internasional University Qum, Iran. Jonathan Golden, Ph.D Drew University New Jersey. USA. DR. Azmil Tayeb dari University Sains Malaysia (Penang). Juga, beberapa narasumber nasional, Mukhtar Syamsuddin dari UGM dan DR. Abdul Kadir Riyadi dari UINSA.

Suasana konferensi ilmiah yang diikuti sekitar 150 mahasiswa pasca sarjana ushuluddin dan filsafat tersebut terasa sangat hidup dan menarik. Acara tersebut dipimpin DR. Ahmad Zainul Hamdi sebagai moderator. Suasana menjadi semakin menarik, karena pihak Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA sebagai pelaksana mengemas acara pendamping berupa presentasi jurnal seputar disiplin ilmu ushuluddin dan filsafat. Puluhan presenter menyajikan makalah dengan berbagai judul menyangkut teologi, teologi sosial dan ketersesatan. Secara umum materi conference membelejeti tentang teologi dan penyimpangan secara sosial, sesuai dengan temanya, “Contending Indonesian Islam: Is Heresy An Illegitimats Choice ?”. Beberapa mahasiswa menyampaikan presentasi materi penyimpangan aqidah dan penyimpangan misi sosial agama.

2

“Kami menyampaikan hasil temuan bahwa ada organisasi keagamaan Islam yang intoleransi dan bertentangan dengan konstruksi sosial di masyarakat. Kami tidak bicara teologinya, karena masalah tersebut sangat pribadi. Yang kami sampaikan disini adalah perilaku sosialnya. Kami menggunakan referensi teori, konstruksi sosial Peter L Berger,” kata Moh. Fail dari pasca sarjana Aqidah Filsafat Islam UINSA. Konferensi ilmiah UINSA tersebut memang sangat menarik. Karena materi yang dibicarakan bersinggungan secara langsung pada masing-masing pribadi muslim. Seperti, hijab sebagai wujud kepatuhan iman dan selebritas. Transaksional antara akidah dengan klenik. Forum tersebut menjadi benar-benar beda dengan kebiasaan diskusi dan seminar pada umumnya. Rasa ushuluddin dan filsafatnya sangat kental. Telusur ilmiahnya sangat kuat. Doktrin berfikir mendalam sampai pada esensi masalahnya benar-benar mengena.

 

Categories: Advetorial

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*