Diklat Jurnalistik Nasional 2019

Diklat Jurnalistik Nasional 2019

SURABAYA.(SLI). Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi dan Manajemen Kepelabuhanan (STIAMAK) Barunawati Surabaya menggelar event bergengsi, Diklat Jurnalistik Nasional 2019. Dilaksanakan di aula kampus, Sabtu (23/2/2019). Diklat bertema, “Meneguhkan Jurnalistik Maritim Era 4.0 menghadirkan tiga narasumber, Faruq Hidayat (Corporate Secretary Pelindo III). Nugroho Dwi Priyohadi (Ketua STIAMAK Surabaya) dan Moh. Fail (Humas STIAMAK Surabaya/senior jurnalis). Sebagai pelaksana, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIAMAK Surabaya. Faruq memaparkan bahwa revolusi industri terjadi dari tahun 1784 sampai 2011. Masing-masing memiliki ciri yang berbeda. Tahun 1784 cirinya, penggunaan mesin uap. Tahun 1870 cirinya mesin produksi masal. Tahun 1969 cirinya beroperasinya teknologi informasi dan otomasi dan tahun 2011 cirinya mesin terintegrasi jaringan internet. “Kami membangun komunikasi dengan cara press conference, media port visit, liputan operasional pelabuhan dan press release,” kata Faruq. Dijelaskan juga tengtang klasifikasi media. Yaitu: media dengan reputasi perusahaan baik dan sangat berpengaruh, media dengan reputasi perusahaan baik dengan relasi prosedural kurang baik, media dengan reputasi perusahaan baik tapi tidak memiliki reputasi proseduran yang ketat dan media dengan reputasi perusahaan tidak baik dan tidak profesional. Sementara jurnalis senior Moh. Fail mengungkapkan, bisnis media mengalami perubahan sangat dahsyat. Dari jumlah media dengan oplah terbatas menjadi tak terbatas. Dari kerja mesin ketik manual, sistem disket, komputer sampai cukup menggunakan hp. Pengambilan gambar menggunakan film, cetak film sampai ganti menjadi sistem digital. Era cetak tergerus online dan medsos. “Perubahan ini tidak bisa dihindari,” kata senior wartawan pelabuhan yang sudah bekerja 25 tahun di grup Jawa Pos tersebut. Media dan wartawan maritim lanjut dia, telah menjadi icon tersendiri. Menulis dengan laporan khas tentang bisnis maritim. Menguasai bidang kementerian perhubungan, kementerian BUMN, kemenkeu, kementan dan kewenangan polri dan angkatan laut di pelabuhan. “Jadi, menulis laporan reportase maritim tidak sulit, kuasai bidangnya, banyak menyerap informasi dan update, latihan menulis, terus latihan menulis dan jangan takut salah,” katanya. Ketua STIAMAK Surabaya yang mengisi sesi terakhir meminta kepada 50 peserta dari mahasiswa dan pengurus BEM supaya memiliki daya pandang jauh ke depan. “Apa yang akan terjadi tahun 2050 nanti ?,” katanya. Sekarang ini lanjut dia, memberi informasi tidak menunggu harus lengkap ada 5W+1H. Disajikan dalam waktu sangat cepat dan siapa saja bisa melakukan. “Jadi, kita semua tertantang untuk mengembangkan kecerdasan,” kata psikolog lulusan UGM dan mantan Direktur PT. Ambang Barito Nusapersada tersebut.

Categories: Advetorial

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*