Muslih IKAPPI Pengelola 25 Warkop

GRESIK.(SLI). Alumni Pondok Pesantren Ihyaul Ulum  (PPIU) Dukun Gresik benar-benar warna warni. Menjadi tenaga pendidik (ustadz, guru, dosen dan kyai). Pejabat (bupati, kepala dinas, DPR dan PNS). Pengusaha (pabrikan, jasa dan UMKM). Petani (sawah dan tambak). Juga, kegiatan ekonomi sektor lain. Satu diantara yang menarik dari warna warni tersebut adalah usaha warung kopi. Beberapa alumni sukses mengelola usaha warung kopi. Satu diantaranya adalah Muslih dengan brand LIK KOPI. Mengelola lebih dari 25 warung kopi yang tersebar di Gresik, Lamongan, Surabaya dan Sidoarjo. Dia menjadi narasumber inspirasi bisnis dalam seminar warung kopi yang diadakan Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Ihyaul Ulum (IKAPPI), Ahad (15/10/2017). Bagaimana ceritanya ?

Ditemui di rumahnya di Lamongan. Didampingi istri tercintanya dia menceritakan. Bekal moral dan semangat hidup untuk menjadi orang baik dan benar menjadikannya pantang menyerah. Lulus dari PPIU melanjutkan kuliah di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya-atas dorongan orang tua. Di tengah kuliah, dia ragu untuk melanjutkan. Karena melihat kondisi ekonomi orang tua yang pas-pasan.  Dia putuskan pindah haluan, menjaga warung kopi milik keluarga. Dia pelajari cara berkomunikasi dan melayani orang. Cara memilih produk kopi yang cocok. Cara menjaga kepercayaan pemilik usaha dan pelanggan. Semua unsur pokok tersebut dia perhatikan sampai menemukan beberapa hal penting supaya bisnis warung kopi berhasil.

Perjalanan selanjutnya dia memutuskan untuk mengelola warung kopi sendiri, setelah memiliki pengetahuan dasar soal menjual minuman selera laki-laki tersebut. Ternyata menjual barang yang sama di tempat berbeda, hasilnya tidak selalu sama. Batin dan pikiran Muslih terus berdiskusi, ada apa ? “Kopi yang saya jual biasa-biasa saja, sama dengan kopi yang dijual orang lain. Ada warung kopi ramai. Ada warung kopi sepi atau biasa saja. Memang seperti itu kondisinya,” kata Muslih yang selalu tampil sederhana dengan tutur kata kesantriannya.

Pengalamannya mengelola warung kopi menjadikan dia sangat paham, bagaimana mengelola SDM yang menjaga warung supaya betah dan tidak pindah-pindah atau cepat keluar. Merawat pelanggan. Membina hubungan baik dengan lingkungan di sekitarnya. Semuanya membutuhkan seni dan ketajaman feeling bisnis. Dan terakhir yang menentukan kata dia, adalah mendapatkan ridlo Allah untuk hidup supaya barokah. “Saya senang kalau teman-teman yang usaha warung kopi berhasil. Beberapa teman yang dulu membantu saya sekarang buka sendiri dan berhasil. Saya juga senang berbagi ilmu warung kopi,” katanya.

Tentang pengalamannya saat di pesantren PPIU. Dia mengungkapkan, senang berkumpul dengan para ustad dan kyai. Banyak menerima ilmu agama mulai akidah tentang ketauhidan, syariah tentang amaliah dan etika soal moralitas. Di pondok juga diajarkan disiplin shalat berjamaah, berdzikir, wirid dan banyak sekali pelajaran lain yang diajarkan. “Di pondok itu menyenangkan. Kumpul yai dan ustad-ustad. Diajari ngaji dan ibadah. Mental kita jadi kuat,” kata Muslih.

Saat di pondok, Muslih juga memiliki cerita lucu. Beberapa kali bahan bumbu masaknya hilang. Seperti; lombok, tomat, garam, terasi. Saat ditanyakan, tidak ada teman yang mengaku. Tapi dia tetap menikmati budaya pesantren tersebut. Karena masih ada solidaritas ‘koncoan’ yang tinggi. Saling membantu dan mengingatkan. “Saya pernah ketemu teman waktu di pondok. Saya bilang, dulu lombokku sering hilang. Sekarang mau, kalau kamu saya kasi lombok satu truk ?,” tambah Muslih mengenang saat lucu di pondok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *