STIAMAK Beri Pembekalan Pengembangan Bisnis UMKM

STIAMAK Beri Pembekalan Pengembangan Bisnis UMKM

SURABAYA.(SLI). Sebanyak 52 Usaha Micro Kecil dan Menengah (UMKM) Kec. Semampir Surabaya mengikuti pembekalan pengembangan usaha dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi dan Manajemen Kepelabuhanan (Stiamak) Barunawati Surabaya, Selasa (24/7/2018). Acara tersebut terlaksana atas kerjasama perguruan tinggi STIAMAK dengan pihak Kecamatan Semampir Surabaya. Materi yang diberikan meliputi; strategi pemasaran, marketing online dan sistem pembukuan. Dibuka oleh Camat Semampir, Siti Hindun Robba bersama Ketua STIAMAK Barunawati Surabaya,  Iwan Sabatini. Sedangkan penyaji materi terdiri atas; Mudayat Haqi, Soedarmanto, Nur Widyawati, July Prastyorini, Kajanto dan Moh. Fail.

Para peserta merupakan UMKM yang sudah aktif memiliki usaha sendiri. Diproduksi di rumah masing-masing. Mulai dari jenis makanan sampai handycraft . Beberapa UMKM mengaku sudah mengikuti beberapa event tingkat kota dan propinsi. Beberapa barang yang diproduksi bahkan sudah diminati masyarakat dari luar Jawa Timur.

Ketua LPPM Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Stiamak Barunawati Surabaya, Soedarmanto mengatakan bahwa kegiatan ini sebagai wujud pengamalan dari Tridarma Perguruan Tinggi yang salah satunya harus mengabdi kepada masyarakat. “Sebagai akademisi, kami ingin membantu dan mengabdi kepada masyarakat dengan ilmu yang kami miliki. Karena Ketua kami Bapak Iwan Sabatini sangat konsen dalam peningkatan kinerja UMKM, maka sejak tahun 2015 kami mulai menyentuh wilayah ini. Sebelumnya, pelatihan UMKM telah kami laksanakan di Sidoarjo. Dan sekarang di Semampir karena ini adalah wilayah kerja kami. Selanjutnya juga akan dilakukan di sekitar Perak,  yaitu di Kecamatan Pabean Cantikan. ” ujar Soedarmanto di sela pelatihan.

Tim STIAMAK memberikan pendalaman mengenai administrasi, manajemen keuangan dan akuntansi juga sistem penjualan melalui sistem online. Empat masalah tersebut menjadi sangat penting, ketika UMKM berhubungan atau menjalin kerjasama dengan pihak ketiga. Baik dengan perbankan maupun perusahaan yang membantu permodalan.

Salah satu peserta sekaligus pemilik Famu Cake & Cookies Habsyiah menyatakan senang dengan kegiatan tersebut. Karena mendapatkan pencerahan soal administrasi dan pembukuan keuangan yang baik sempurna. “Sebelumnya saya tidak paham sama sekali. Tidak pernah saya hitung berapa pengeluaran dan berapa pemasukan yang saya dapatkan,” katanya.

Habsyiah mengaku menekuni usaha tersebut sejak tahun 2012. Awalnya omset usahanya hanya Rp 1 juta. Tapi setelah ditekuni kini meningkat sampai Rp 15 juta. Yang menjadi persoalan katanya, kondisi pasar tidak stabil. Sehingga aktivitas produksi dan pemasaran naik-turun. Kalau mendekati lebaran melonjak. Sementara selesai lebaran kembali menurun.

 

 

 

Categories: Advetorial

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*