Importir Masih Merasakan Biaya Tinggi di Surabaya

Importir Masih Merasakan Biaya Tinggi di Surabaya

SURABAYA.(SLI). Pelaku perdagangan impor masih merasakan adanya biaya tinggi di rute logistik melalui pelabuhan di Surabaya. Hal ini terjadi akibat birokrasi dan layanan sistem online yang tidak maksimal. Barang dalam petikemas yang sudah dibongkar dari kapal tidak bisa segera dikeluarkan dari terminal. Sementara pengelola terminal memberi batas waktu penumpukan terbatas. Jika melebihi batas, petikemas akan dipindahkan atau membayar tarif penumpukan progresif.

Seorang pengusaha pengurusan jasa kepebeanan mengungkapkan, biaya tinggi muncul akibat lamanya proses pengeluaran barang dari terminal. “Ini dimulai dari persetujuan pengiriman barang dari luar negeri. Sistem online sudah ok. Tapi tetap harus melengkapi dokumen fisik. Karena harus menunggu. Jika lebih dari tiga hari, maka petikemas di terminal harus di pindah atau PLP atau bayar tarif penumpukan progresif. Tarif PLP ke penumpukan diluar terminal membutuhkan biaya Rp 1,5 juta per petikemas. Itu pun belum tentu tuntas. Karena pemeriksaan di lokasi baru menunggu semua petikemas siap di tempat. Sehingga biaya akan semakin membengkak. Kami sudah berteriak. Tapi belum ada perbaikan,” kata seorang pengusaha yang tidak mau disebut namanya.

Harapannya, sistem online diberlakukan 100 persen menggantikan sistem manual dengan dokumen fisik. Memanfaatkan lapangan penumpukan di terminal yang masih banyak kosong. Tidak gegabah memindahkan ke tempat penumpukan diluar terminal. Memiliki semangat yang sama menghindari timbulnya biaya tinggi. Pemerintah tanggap terhadap kondisi kurang baik di pelabuhan.

Direktur Komersial dan Operasional Pelindo III Mohammad Iqbal dalam kesempatan terpisah mengungkapkan, dwelling time di Tanjung Perak masih lebih dari 3 hari. Dijelaskan, proses dwelling time dibagi dalam tiga tahap, yaitu precustome clearance, tahap custome clearance, dan post-custom clearance. Ketiga proses tersebut melibatkan koordinasi banyak instansi baik kementerian dan lembaga dari sisi pemerintah dan pihak swasta sebagai pemilik barang. Catatan awal 2018 menyebutkan, dwelling time di Terminal Peti Kemas Semarang mencapai rata-rata 7,05 hari, Terminal Petikemas Surabaya selama 4,86 hari dan Terminal Teluk Lamong selama 5,08 hari.

Sementara dari pihak perusahaan pelayaran menginginkan, supaya pemerintah mengintervensi pengoptimalan lapangan penumpukan di terminal-khususnya untuk layanan petikemas impor. “Berdasar pengamatan bahwa Yard Occupancy Ratio atau YOR  di Terminal Petikemas Surabaya masih sekitar 50 persen dari kapasias terpasang. Sesuai aturan yang dikeluarkan pemerintah, seharusnya maksimumkan keterisian YOR sampai ke level 70 persen,” kata Ketua DPC INSA Surabaya, Stenvens Handry Lesawengen.

Dalam catatan INSA Surabaya, YOR TPS tahun 2010 sebesar 47,7 persen. Tahun 2011 sebesar 56,69 persen. Tahun 2012 sebesar 55,63 persen. Tahun 2013 sebesar 54,58 persen. Tahun 2014 sebesar 43,39 persen. Tahun 2015 sebesar 37,97 persen. Tahun 2016 sebesar 34,65 persen dan tahun 2017 sebesar 35 persen. Intinya, YOR di TPS tidak pernah mencapai 70 persen. “Situasi ini terjadi karena ada target dwelling time,” tambah Stenvens.

Ketua Umum BPD GINSI Jawa Timur Romzi Abdullah membenarkan adanya keluhan importir Jawa Timur yang menggunakan rute logistik di Tanjung Perak. Menurutnya, jalur perdagangan luar negeri-khususnya untuk barang impor masih belum efisien dan biayanya masih tinggi. Kegiatan impor mestinya bisa lebih cepat, efisien dan tidak menimbulkan biaya tinggi. “Memang benar, pindah lokasi penumpukan menimbulkan biaya tambahan, dan cukup besar. GINSI akan memperjuangkan supaya proses impor bisa lebih cepat dan efisien,” kata Romzi.

Catatan GINSI dari hasil laporan anggota menyebutkan bahwa biaya tambahan yang harus ditanggung importir akibat pindah lokasi penumpukan untuk petikemas ukuran 20 feet sebesar Rp. 1.175.000 dan petikemas ukuran 40 feet sebesar Rp. 1.606.000.

Categories: Advetorial

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*