Data Perdagangan Jangan Persepsi

Data Perdagangan Jangan Persepsi

SURABAYA.(SLI). Ketua Umum ALFI/ILFA Jawa Timur periode 2017-2022 Hengky Pratoko mengeluarkan kritik pedas terhadap data perdagangan yang menggunakan persepsi. Dianggap membahayakan dan menjadi ancaman data fiktif bagi perdagangan Jawa Timur. Pihaknya meminta Pemerintah Propinsi Jawa Timur teliti dan akurat dalam membuat data. Hal demikian disampaikan terkait sistem kaluar-masuk barang melalui pelabuhan, utamanya di Tanjung Perak.
“Pemerintah Propinsi Jawa Timur harus teliti dan akurat dalam membuat data perdagangan di Jawa Timur-khususnya barang-barang yang terkirim di pelabuhan. Jangan sampai Jatim membukukan nilai ekspor. Padahal barang yang dikapalkan tujuan luar negeri berasal dari Jawa Tengah. Dia hanya lewat, transit saja melalui Surabaya di Tanjung Perak. Misalnya, barang dari Solo, Demak atau Semarang. Surabaya hanya kelewatan saja. Ini tidak bisa diambil data berdasarkan pemuatan barang di Tanjung Perak. Itu bukan barang Jawa Timur,” kata Hengky yang terpilih menjadi ketua ALFI/ILFA Jatim kali kedua.
Kondisi yang sama juga terjadi pada kegiatan arus barang di Tanjung Perak. Beberapa barang dibongkar dari kapal domestik luar pulau di Terminal Petikemas Surabaya (TPS). Selanjutnya dimuat atau diangkut ke kapal internasional untuk tujuan ekspor. Barang turun-naik tersebut adalah satu dan bukan barang dari Jawa Timur. “Ini harus teliti dan jeli. Karena barang yang dipindahkan di TPS tersebut sifatnya hanya transit dan bukan barang Jawa Timur,” tambah Hengky.
Apa yang dikatakan Hengky memang butuh kajian cermat. Karena kondisi di Tanjung Perak memang demikian. Misalnya, di terminal domestik. Ada kapal RoRo membongkar 600 unit mobil baru dari Jakarta. Seminggu kemudian mobil yang sama dimuat ke kapal domestik dengan tujuan beberapa daerah luar pulau. Catatan bongkar muat dan arus barang memang tinggi. Tapi fakta barangnya hanya satu yang diturunkan dan dinaikkan. Perilaku demikian juga terjadi untuk beberapa jenis barang lainnya.
Menurut Hengky, data perdagangan berdasarkan persepsi sangat membahayakan. “Pada era teknologi informasi, era digital dan era data seperti sekarang ini seharusnya sistem sudah bisa memberikan data secara ditail dan akurat. Jangan sampai kita tertipu dan merugikan semua pihak, termasuk pemerintah sendiri,” tambah Hengky.

Categories: Advetorial

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*