Biaya Impor Logistik Terus Meningkat

Biaya Impor Logistik Terus Meningkat

SURABAYA.(SLI). Kemajuan pelabuhan belum menggembirakan. Biaya impor logistik terus meningkat. Sehingga menambah beban biaya produksi barang dan menghambat laju daya saing perdagangan internasional. Kondisi demikian sangat kontradiktif dengan program pemerintahan Joko Widodo yang menginginkan biaya logistik dapat ditekan menjadi lebih efisien. Demikian dikatakan Ketua Umum Gabungan Importir Seluruh Indonesia (GINSI), Anton Sihombing kepada wartawan di Hotel Shangri La Surabaya, Senin (13/11/2017).
“Sekarang ini logistic cost di pelabuhan di Indonesia bukannya turun, tapi malah terus meningkat. Ini yang menjadi beban importir. Otomatis biaya produksi akan ikut naik sehingga daya saing perdagangan di tingkat internasional menjadi semakin susah. Ini tidak sesuai dengan keinginan pemerintahan presiden Joko Widodo yang menghendaki biaya logistik menjadi semakin efisien,” kata Anton.
Menurut Anton, akibat biaya logistik yang masih tinggi tersebut menjadikan ranking Indonesia berada di bawah Vietnam. Data GINSI menyebutkan, biaya logistik di pelabuhan di Indonesia rata-rata masih di kisaran 30 persen sampai 36 persen dari total biaya operasional barang. Padahal di Singapura cost logistic hanya di kisaran 16 persen, sedangkan di Malaysia hanya 17 persen. GINSI kecewa tidak dilibatkan dalam perhitungan tarif jasa di pelabuhan. “Mestinya GINSI dilibatkan,” katanya.
GINSI kata Anton, juga menyayangkan adanya regulasi perdagangan-khususnya menyangkut kegiatan impor yang tidak konsisten, gampang berubah dan tumpang tindih. Seperti yang terjadi di Kementerian Perdagangan. “Aturannya belum selaras sehingga mengakibatkan berbagai masalah. Salah satunya belum tercapainya cost logistic yang berpihak pada importir Indonesia. Seharusnya Indonesia malu, daya saingnya masih di bawah Vietnam,” katanya.
Catatan GINSI, kenaikan tarif jasa di pelabuhan memberi kontribusi pada kenaikan biaya logistik nasional-khususnya pada kegiatan impor. “Kenaikan tarif jasa di pelabuhan itu tidak seksi. Karena dengan biaya logistik yang tinggi, akibatnya harga jual barang menjadi tinggi. Ini sangat buruk dan bertolak belakang dengan upaya pemerintah meningkatkan daya beli. Importir bisa gulung tikar,” kata Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat GINSI, Erwin Taufan yang ikut mendampingi Anton Sihombing.
Ancaman buruk bisa berantai. Misalnya kata Erwin, importir akan impor barang jadi. Karena dengan impor barang jadi, harga barang menjadi lebih murah. “Tapi, yang demikian juga tidak sesuai dengan keinginan pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap industri dalam negeri,” imbuhnya.

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*