Pelabuhan Tiga Episode

Pelabuhan Tiga Episode

SURABAYA.(SLI). Beberapa peserta Mubes 1 Ikapen III menyampaikan kenangan masing-masing. Dalam catatan yang diceritakan, ada tiga episode kondisi di pelabuhan. Yaitu; pelabuhan era general cargo yang ditandai dengan pengapalan barang urai yang ditumpuk di lapangan penumpukan dan barang-barang masuk gudang pelabuhan. Dikerjakan dan dicatat secara konvensional Suasana di terminal juga masih sangat terbuka yang ditandai dengan banyaknya pengunjung. Pelayanan bongkar muat dominan menggunakan tenaga padat karya yang ditandai dengan banyaknya pengerahan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM). Kondisi demikian terjadi pada tahun 1980-an.

Selanjutnya, pelabuhan era semi kontainer. Terjadi akhir 1980 sampai 1990-an. Ditandai dengan datangnya beberapa kapal petikemas internasional. Seperti; Nedlloyd, Maersk Line, SeaLand Wan Hai Line dan beberapa pelayaran lain. Bongkar muatnya menggunakan crane kapal (ship crane). Menggunakan dermaga internasional Jamrud Utara. Petikemas internasional ditumpuk di lapangan terbuka dengan mengoperasikan alat bongkar muat forklift dan shore crane. Kondisi penempatan barang bercampur antara petikemas dan non petikemas di satu terminal.

Pada saat yang sama, mulai berdatangan alat-alat mekanik untuk bongkar muat. Seperti; shore crane, spreader dan semakin bertambahnya angkutan petikemas berupa trailer. Meskipun muatan petikemas masih relatif terbatas, tapi arus kunjungan kapal petikemas internasional ini semakin rutin. Situasi bisnis shipping line pun ikut berubah. Beberapa kapal asing menawarkan layanan antar pulau. Sehingga berdirilah perusahaan asing berbadan hukum bisnis Indonesia. Beberapa pimpinan pelayaran nasional mulai berselingkuh menjadi branch manager shipping line asing. Gajinya lebih menjanjikan, meskipun keputusan masih di tangan ship owner.

Pemerintah pun cepat tanggap dengan program pembangunan kapal petikemas Caraka Jaya Niaga. Beberapa galangan kapal nasional sibuk memproduksi kapal berkapasitas antara 100 TEUs sampai 400 TEUs. Diantaranya; PT. PAL Indonesia, PT. Dok dan Perkapalan Surabaya dan PT. Dumas Tanjung Perak Shipyard. Beberapa perusahaan pelayaran nasional ditunjuk oleh pemerintah melalui Menteri Perhubungan Danutirto untuk menjadi operator MV Caraka Jaya Niaga III dan lain-lain.

Suasana pelayanan di pelabuhan juga ikut berubah-khususnya di Pelabuhan Tanjung Perak. Beberapa kapal petikemas domestik mulai mencari dermaga. Seperti; Jamrud dan Mirah. Yang sedikit repot adalah penempatan bongkar muat kapal jumbo. Yaitu; satu kapal yang mengangkut petikemas dan general cargo. Otomatis lokasi terminalnya multi purpose, bisa digunakan untuk kegiatan petikemas dan non petikemas.

Para pegawai Pelindo III-khususnya yang dinas di terminal dihadapkan pada dua bentuk pelayanan. Disatu sisi masih harus mengurus menumpuk barang di lapangan dan mengurus gudang untuk menyimpan barang yang mau dan setelah dibongkar dari kapal. Episode semi petikemas ini menjadi masa transisi bagi pegawai Pelindo III. “Bahkan, sebelum masa itu (era semi petikemas-red), gaji saja pernah ditunda,” kata Kajanto-pensiunan yang menjadi panitia pelaksana Mubes I Ikapen III.

Era 1990-an juga ditandai dengan pembangunan Unit Terminal Peti Kemas (UTPK)-sekarang Terminal Petikemas Surabaya (TPS) oleh Pelindo III. Tahap awal melayani kapal petikemas dengan panjang dermaga 500 meter. Beberapa kapal petikemas mulai digiring ke UTPK. Dilayani menggunakan alat bongkar muat modern berupa Container Crane (CC). Dilengkapi lapangan penumpukan petikemas yang memadai dan alat-alat mekanik. Pelayanan UTPK semakin diminati dan terus meningkat. Menjadi unit bisnis penyumbang pendapatan terbesar bagi Pelindo III. Mulai April 1999 TPS diprivatisasi. Paninsuler & Orient Port asal Australia menguasai saham 49 persen dan Pelindo III menguasai 51 persen.

Komposisi kepegawaian TPS pasca privatisasi menjadi berubah. Semula pegawai TPS 100 persen adalah pegawai dari Pelindo III. Tapi setelah privatisasi 1999 komposisi pegawai TPS berubah menjadi dua yaitu; pegawai dari Pelindo III dan pegawai rekruitmen TPS sendiri. “Makanya, sekarang ini dalam perkembangannya ada pensiunan pegawai Pelindo III dan pegawai anak perusahaan Pelindo III. Jadi kondisinya berbeda,” kata Ketua Ikapen III, Abdullah Umar dalam sambutan transisi kepemimpinan tersebut.

Memasuki era 1990-2000-an sampai sekarang menjadi era petikemas dan teknologi informasi. Ditandai dengan modernisasi pelayanan berbasis mekanik dan komputerisasi. Pelayanan bongkar muat dilayani menggunakan Container Crane (CC), Rubber Tyred Gantry (RTG), Spreader, Shore Crane (SC) Harbour Mobile Crane (HMC) dan beberapa alat mekanik lain untuk bongkar muat petikemas. Untuk pelayanan non petikemas-khususnya curah kering menggunakan HMC, Grape dan Hopper. Sementara bongkar curah cair sudah menggunakan pipanisasi.

Perubahan juga terjadi pada kondisi hinterland. Pertumbuhan pembangunan depo petikemas terus bermunculan. Jumlah angkutan petikemas berupa trailer juga terus bertambah. Kondisi tersebut merubah tata ruang dan optimalisasi lahan diluar lini-1 pelabuhan. Perubahan semakin terasa setelah pemberlakuan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Dalam UU tersebut disebutkan posisi Pelindo III sebagai Terminal Operator. Otomatis, tugas dan fungsinya menjadi semakin besar.

Perubahan semakin cepat dengan penerapan layanan online. Keragaman pelayanan konvensional yang semula menggantungkan pada kualitas pelayanan personal telah dirumuskan menjadi sebuah program dan sistem online. Mulai perencanaan pelayanan kapal, bongkar muat dan pembayaran penggunaan fasilitas terminal cukup dikerjakan dari kantor ke kantor melalui layanan online. “Saya kerja di Pelindo III selama 35 tahun 3 bulan. Mulai dermaga Kupang 22 meter sampai 1.200 meter,” kata perwakilan Ikapen III Kupang NTT, Jeremias Banunu.

Kondisi diatas menggambarkan perubahan kondisi pelabuhan di Tanjung Perak. Sementara pelabuhan cabang di daerah sebagian mengikuti perkembangan Tanjung Perak memasuki era kontainer dan masih bertahan melayani kapal general cargo dan kapal penumpang. Namun sebagian besar telah berubah menjadi semakin maju dan modern.

 

Categories: Advetorial

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*