Supardi Kepala Navigasi Kelas I Surabaya

Supardi Kepala Navigasi Kelas I Surabaya

Suasana haru memenuhi Hall Kantor Distrik Navigasi Kelas I Surabaya, Jum’at (27/1/2017). Sekitar 100 undangan tediri dari pegawai internal, undangan instansi Tanjung Perak dan beberapa pejabat Kementerian Perhubungan berkumpul menyaksikan acara Pisah Sambut pergantian kepemimpinan lembaga pengawas, pemandu trafic shipping line Tanjung Perak dari Ir. I Nyoman Sukayadnya, MM ke Ir Supardi. Kemasan acara sederhana tapi sangat hidmat. Semua pegawai dan tamu undangan haru menyaksikan kesederhanaan acara yang biasanya digelar di hotel atau tempat mewah lainnya.

Sambutan pertama disampaikan Supardi. Tidak panjang dan tidak banyak yang disampaikan. Pimpinan Navigasi baru tersebut hanya menyebut beberapa kalimat sederhana tapi cukup prinsip sebagai pemimpin organisasi instansi. “Yang sudah baik kita lanjutkan. Kita kerja bersama dan ikhlas untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata Supardi didampingi istrinya yang berpenampilan sederhana.
I Nyoman Sukayadnya yang diangkat menjadi Sekretaris Direktur Jenderal Perhubungan Laut di Jakarta menyusul sambutan kedua. Dia mengaku terkesan dengan kekompakan cara bekerja yang diberikan pegawai Navigasi Surabaya. Nyoman-panggilan akrab I Nyoman Sukayadnya terlihat sangat dekat dengan bawahannya. Membangun komunikasi tanpa batas antara atasan dengan bawahan. “Kalau kita bekerja dengan ikhlas, semua pekerjaan terasa ringan,” katanya.
Beberapa pesan penting Nyoman antara lain; bekerja dan melayani dengan cepat. Jangan pernah melakukan pelanggaran dan merasa tidak ada yang tahu. Beberapa tugas yang belum tuntas, saya percaya tetap bisa diselesaikan. Tetap menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitar, termasuk dengan Pelindo III. Masalah APBS (Alur Pelayaran Barat Surabaya-red) tetap bisa diselesaikan. Ada catatan hutang Rp 6-7 miliar akan dibayar yang nabrak rambu. “Hari ini menjadi hari paling indah untuk meminta maaf. Terima kasih atas kerjsama semuanya dan kami meminta maaf, kalau ada kesalahan. Tetap bisa berkomunikasi, meskipun kami tidak di Surabaya lagi,” tutup kata Nyoman.

Categories: Advetorial

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*