Respon Inaportnet Masih Lambat

Respon Inaportnet Masih Lambat

SURABAYA.(SLI). Para pengusaha pelayaran nasional mengeluhkan proses pelayanan Inaportnet. Sistem baru berbasis internet tersebut dinilai lambat. Proses dokumen yang biasanya cukup diselesaikan dalam hitungan per jam atau paling lambat sehari tuntas, sekarang memakan waktu sampai tiga hari atau bahkan lebih. Sehingga banyak kapal menumpuk, jadual kunjungan kapal di pelabuhan tujuan kacau dan menimbulkan kerugian cukup besar. Yang paling terpukul adalah pelayaran yang mengikat perjanjian window system dengan operator terminal (Pelindo).

“Kejadiannya setelah tanggal 12 Nopember kemarin sampai sekarang. Sebelum Inaportnet sangat cepat. Tapi setelah Inaportnet sekarang ini kapal harus nunggu sampai tiga hari. Kami sangat terpukul dengan kejadian ini. Muatan kapal tidak bisa diterimakan tepat waktu dan berpotensi mengalami kerusakan. Jadual kunjungan kapal di pelabuhan tujuan juga kacau. Biaya kami meningkat. Kerjasama window system bisa mundur sampai seminggu baru bisa sandar,” kata petugas dinas luar PT. Meratus Line yang enggan disebut namanya saat ditemui di kantornya, Kamis (24/11/2016).

Sebenarnya kata dia, program Inaportnet ini sangat bagus. Sistem ini akan mempercepat proses pelayanan kapal dan barang. Sayangnya, jumlah pelayaran yang sudah online system masih sangat terbatas. Banyak pelayaran antar pulau masih menggunakan sistem manual. Mareka masih asing dengan teknologi informasi. Sebaliknya, pelayaran yang sudah berbasis internet ikut tersendat. Karena Inaportnet diberlakukan secara general. “Responnya sangat lambat. Mungkin banyak pelayaran yang belum siap. Sehingga problemnya menumpuk,” tambah petugas yang mengaku sampai lebur tengah malam untuk menyelesaikan tugasnya.

Menurut dia, Inaportnet sangat lambat merespon program sistem operasional kapal. Misalnya, ketika ada kapal rute Surabaya-Banjarmasin rusak. Pihak pelayaran akan mengganti dengan kapal lain. Permohonan pergantian armada tesebut memakan waktu sangat lama. Atau jadual kunjungan kapal berubah karena faktor muatan atau jenis kapal yang harus disesuaikan dengan kondisi pelabuhan tujuan. Persetujuan tersebut sangat lama. “Sepertinya, program ini harus disempurnakan. Tahap awal butuh waktu sosialisasi yang cukup dan sistem manual masih dibutuhkan,” tambahnya.

Ketua Bidang Pelayaran Dalam Negeri DPC INSA Surabaya Slamet Raharjo ketika dikonfirmasi membenarkan pelaksanaan Inaportnet dan sistem online masih amburadul. Kapal antri di pelabuhan dan kacau. Rencana Pola Trayek (RPT) yang diajukan pelayaran juga lama.  “Memang benar. Kami sudah mendapatkan banyak keluhan dari pelayaran anggota INSA. Sekarang ini sistem pelayanan kapal dan barang di pelabuhan semakin lama. Kemarin-kemarin cukup sahari bahkan tidak sampai sehari sudah beres. Sekarang nunggu sampai tiga hari. Penempatan kapal nunggu antrian juga jauh dari terminal.

Slamet menjelaskan, beberapa kerugian pelayaran akibat sistem baru yang belum lancar tersebut; Jadual operasional kapal kacau. Jadual kegiatan kapal di pelabuhan keberangkatan dan pelabuhan tujuan amburadul. Muatan kapal berpotensi rusak. Biaya operasional kapal meningkat. Jadual window system di pelabuhan tujuan hilang. Arus pengiriman barang terganggu.

“Kami dari pengurus INSA Surabaya sudah menghadap Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Perak. Kami sampaikan kondisi di lapangan. Kami sudah minta supaya sistem manual juga bisa diberlakukan. Mengingat masih banyak pelayaran belum siap dengan sistem baru ini. Terus terang, kami dari pelayaran sangat dirugikan dengan kondisi ini. Semoga pemerintah segera memberi solusi,” kata Slamet.

Categories: Advetorial

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*