Ujung Kamal Tutup Buku Buka Sejarah

Ujung Kamal Tutup Buku Buka Sejarah

PENYEBERANGAN. Ujung-Kamal. Demikian masyarakat Surabaya dan Madura menyebut penyeberangan feri yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura di Surabaya-Kamal tersebut. Rute penyeberangan di tempat ini sudah sangat lama dan menjadi rute transportasi utama masyarakat Madura dan Jawa-khususnya warga Surabaya dan sekitarnya. Lokasi tambatan kapalnya berada diantara pusat galangan kapal terbesar di Indonesia, PT PAL Indonesia dan dermaga umum Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Persisnya ada di pintu masuk Pelabuhan Rakyat Kalimas Surabaya.
Dari beberapa referensi disebutkan bahwa penyeberangan Ujung-Kamal sudah ada sejak zaman Belanda sekitar tahun 1913. Jasa penyeberangan diawali menggunakan perahu motor. Kemudian meningkat menjadi kapal Roro dari Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) yang bisa mengangkut penumpang bersama angkutan roda empat atau mobil. KM Maduratna merupakan kapal pertama pada rute tersebut. Kemudian sekitar tahun 1958 beberapa kapal lain menyusul datang. Seperti; KM Yudha Negara, KM Bangkalan dan KM Pamekasan. TNI AD juga pernah ikut mengambil peran dalam penyeberangan tersebut. Pada tahun 1963 TNI AD mengoperasikan kapal AD 13 dan AD 29, menyusul setelah kapal milik PJKA mengalami kerusakan. Panjang rute Ujung-Kamal 2,5 mil.
Penyeberangan Ujung-Kamal semakin ramai. Jumlah penumpang kamal dan roda empat terus meningkat. Bukan hanya masyarakat Madura-Surabaya dan sekitarnya saja. Tetapi masyarakat jawa dan luar jawa juga semakin banyak mengunjungi Madura. Kali pertama perusahaan dibentuk untuk penyeberangan Ujung-Kamal adalah PT. Okara. Sejalan dengan pertumbuhan penumpang dan kapal pada tahun 1966 dilakukan perbaikan fasilitas dermaga. Pada saat yang sama datang lagi kapal tambahan masing-masing KM Batu Poron dan KM Batu Gali. Perombakan armada terjadi pada tahun 1983. Semua kapal tipe LCM diganti dengan kapal tipe Landing Craft Tank (LCT) milik PT Madu Perak.
Hubungan masyarakat Madura dan Jawa menjadi semakin terbuka dengan transportasi menjadi semakin lancar. Hasil pertanian, perkebunan dan ternak sapi Madura menjadi semakin dikenal di Pulau Jawa. Transaksi perdagangan semakin ramai. Pulau Madura juga terus berkembang.
Dalam perkembangan selanjutnya, pelayanan jasa penyeberangan Ujung-Kamal dikelola oleh PT Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Fery. Ada tujuh perusahaan feri ikut bergabung di dalamnya. Seperti; PT Dharma Lautan Utama, PT Jembatan Nusantara. Arus penumpang maksimal Ujung-Kamal mencapai 62 ribu orang. Sedangkan kendaraan roda dua 40 ribu unit. Roda empat sebanyak 5 ribu per hari. Dengan jumlah kapal yang beroperasi sebanyak 18 unit.
Puncak arus Ujung-Kamal mulai anjlok. Setelah jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) dioperasikan tahun 2009. Separo penumpang dan angkutan pindah jalur darat melewati jembatan terpanjang di tanah air tersebut. Operator feri mulai kelimpungan. Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan, Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Khoiri Soetomo berkali-kali mengungkapkan, nasib pengusaha feri Ujung-Kamal memprihatinkan. Meskipun masuk Suramadu tidak gratis. Pelanggan Feri Ujung-Kamal semakin banyak memilih lewat Suramadu. Sulit dihindari dan sulit dipertahankan. Arus penumpang dan kendaraan di Ujung-Kamal terus melorot. Ada 15 kapal memilih keluar jalur meninggalkan Ujung-Kamal. Kini, Ujung-Kamal hanya ditunggui 4 kapal dan hanya 3 yang beroperasi.
Pembukuan keuntungan usaha feri Ujung-Kamal nyaris bakal ditutup. Karena tarif Suramadu per 2 Maret 2016 turun 50 persen. Mobil pribadi melintas Suramadu cukup bayar Rp 15 ribu saja. Menyusul sepeda motor yang sudah digratiskan. Yang jelas, pemerintah tidak ingin pengusaha tutup usaha feri. Berarti harus diberi solusi mengisi rute penyeberangan lain atau memberi subsidi supaya tidak merupgi. Begitu juga pengusaha tidak mau bangkrut, tentu ada jalan lain untuk bisnis supaya tetap jalan. Atau tidak dua-duanya. Jika demikian, berarti tutup buku dan membuka sejarah untuk Ujung-Kamal.(SLI)

Categories: Advetorial

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*