BC-Karantina Gagalkan Penyelundupan Jeruk di Surabaya

BC-Karantina Gagalkan Penyelundupan Jeruk di Surabaya

SURABAYA.(SLI). Upaya penyelundupan jeruk oleh importir DMS Jakarta berhasil digagalkan petugas Bea dan Cukai (BC) bekerjasama dengan Karantina di Terminal Petikemas Surabaya (TPS). Kedua instansi melakukan ekpos bersama di Container Yard impor TPS, Jum’at (29/1/2016).

Pihak BC mengatakan, pengiriman 59 ton jeruk yang dikemas dalam 3 petikemas ukuran 40 feet asal Cina tersebut dalam dokumennya disebutkan buah pir. Ternyata fisik isi petikemasnya berupa jeruk. Dalam dokumen disebutkan phytosanitary certificated. Ternyata berbeda dengan fisik barang. Dalam dokumen impor disebutkan bahwa dalam petikemas ukuran 40 feet berisi buah pir sebanyak 1.775 karton atau 12.842 kg. Tapi hasil pemeriksaan fisik ditemukan lima jenis buah berbeda. Yaitu; sebanyak 1.335 karton atau 10.015 kg pir, 360 karton atau 1.800 kg apel, 5 karton atau 67,5 kg kurma merah, 89 karton atau 890 kg kimchi, dan 4 karton atau 900 kg hazel nut.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Jatim I Rahmat Subagio yang memimpin ekspos tangkapan kepada wartawan mengatakan, importir berusaha menyelundupkan jeruk untuk menghindari bea masuk untuk jeruk sebesar 20 persen. “Sebenarnya semua buah yang berasal dari Cina bisa bebas bea masuk bila menggunakan form E, termasuk jeruk. Namun saat ini buah jeruk tidak mendapatkan kuota dari Disperindag sehingga dikenai bea masuk sebesar persen. Dari kasus ini  negara berpotensi dirugikan sebesar Rp 250 juta. Sedangkan sanksi bagi perusahaan importir adalah membayar denda 10 kali lipat dari nilai tersebut,” kata Rahmat.

Sementara pada saat yang sama Karantina yang menggunakan fasilitas Tempat Pemeriksaan Fisik Terpadu (TPFT) menangkap upaya penyelundupan buah asal Korea Selatan. Karena fisik barang tidak sama dengan dokumen dan bukan karena kondisi barang yang cacat atau mengandung bakteri atau penyakit. Buah jeruk yang dikatakan buah pir tersebut juga tidak perlu dibawa ke laboratorium. Jika BC memasukkan kategori barang masuk jalur merah. Maka Karantina memberi status barang masuk jalur kuning.

“Kami tidak mengambil sample. Tapi kami periksa keseluruhan isi dalam kontainer,” kata Kepala Pusat Karantina Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan Badan Karantina Arifn Tasrif.

Dalam dokumen impor disebutkan bahwa dalam tiga petikemas tersebut berisi buah pir dengan jumlah 7.200 karton atau 51.840 kg. Tapi pemeriksaan fisik ditemukan, buah pir hanya berjumlah 1.394 karton atau 11.849 kg.  Sebaliknya, dalam petikemas yang sama ditemukan adanya dua jenis jeruk yaitu,  jeruk ponkam sebanyak 5.214 keranjang atau 48.490 kg dan jeruk honey murcot sebanyak 1.157 karton atau 10.991 kg. “Jeruknya sebanyak 83,39 persen. Sementara pir nya hanya 16,61 persen,” kata Arifin.

 

Categories: Operasional Terminal

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*