INSA–ALFI  dalam Seminar Bisnis Pelabuhan Stiamak

SURABAYA.(SLI). Pengembangan angkutan laut dan pelabuhan sampai saat ini masih konsentrasi di Pulau Jawa. Sementara daerah Indonesia Timur kondisinya masih butuh perhatian. “Saat ini 70 persen kapal numpuk menunggu muatan di Pulau Jawa,” kata Wakil Ketua Umum DPP INSA, Stenvens Handry Lesawengen dalam Seminar Bisnis Pelabuhan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi dan Manajemen Kepelabuhanan (Stiamak) di Grha Barunawati, Kamis (28/1/2016).

Menurut Stenvens yang membawakan materi Tol Laut dan Pelayaran Nasional tersebut mengatakan, kondisi pembangunan pelabuhan dan pengembangan sistem angkutan laut nasional tidak merata. Di Pulau Jawa berkembang pesat. Sementara di Indonesia Timur kondisinya masih sangat membutuhkan perhatian. Hal tersebut menjadikan biaya transportasi laut tidak berimbang sehingga berpengaruh pada terjadinya perbedaan harga barang yang cukup tajam.

“Sekarang pembangunan pelabuhan terfokus di Pulau Jawa. Padahal seharusnya ada pembagian proporsional untuk menambah kinerja sektor maritim Indonesia. Bisa saja di wilayah barat, tengah, dan timur,” tambah Stenvens.

Direktur Teknik dan Teknologi Informasi PT Pelabuhan III Husein Latief memaparkan belanja investasi Pelindo III. Mulai pembangunan infrastruktur pelabuhan dan terminal, membeli peralatan bongkar muat baru dan peningkatan percepatan operasional terminal. Investasi tersebut menyebar sampai di beberapa daerah operasional Pelindo III yang ada di tujuh propinsi. “Kita akan terus melakukan pembangunan dan penguatan infrastruktur baru di beberapa pelabuhan,” katanya.

Sementara Ketua DPW ALFI Jawa Timur Hengky Pratoko yang ikut menjadi narasumber berjudul; Singkronisasi Regulasi dan Birokrasi Logistik mengatakan, paket kebijakan IX pemerintah yaitu single billing cukup bagus. “Berbagai paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah memang sangat fundamental, apalagi paket kebijakan IX terkait sistem IT single billing ini cukup bagus,” katan Hengky.

Menurut Hengky, komitemen pemerintah  meningkatkan perekonomian Indonesia cukup bagus. Melalui langkah tersebut, pembayaran akan lebih mudah dan efisien, karena selama ini pembayaran di pelabuhan memang tidak jadi satu. Ada beberapa pos yang proses pembayarannya harus dilakukan di luar lokasi pelabuhan atau bahkan pada pihak ketiga, seperti ketika kontainer dipindahkan di lahan penumpukan, maka pembayaran dilakukan di luar terminal. Hal tersebut berdampak pada waktu yang diperlukan untuk mengurus birokrasi. Pengurusan tersebut relatif lebih lama karena tidak berada di satu lokasi, sehingga waktu tunggu di pelabuhan menjadi semakin lama.

“Saat ini dwilling time di Tanjung Perak rata-rata 4,5 hari. Padahal waktu tunggu itu harusnya bisa dipersingkat lagi melalui berbagai langkah strategis, salah satunya adalah dengan penerapan single billing,” kata Hengky yang dinilai peserta seminar sebagai narasumber paling segar dan atraktif.

Seminar Bisnis Pelabuhan Stiamak dihadiri lebih dari 350 undangan. Mulai mahasiswa, operator terminal sampai pelaku bisnis pelabuhan. Acara seminar menjadi semakin semarak dengan adanya Launching New Branding Logo Stiamak. “Logo baru menginspirasi bahwa Stiamak akan melaju lebih kencang dan lebih besar lagi. Stiamak fokus dibidang kepelabuhanan. Peluang kerja untuk lulusan Stiamak sangat besar seiring dengan pertumbuhan dan pengembangan pelabuhan di Indonesia,” tegas Ketua Stiamak, Iwan sabatini.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *