Angkutan Korban Kalog Serbu Perak

Angkutan Korban Kalog Serbu Perak

SURABAYA.(SLI). Ketua DPC Khusus Organda Tanjung Perak, Kody Lamahayu Fredy mempridiksi angkutan petikemas yang kehilangan muatan akibat rute Surabaya-Jakarta (PP) dimakan Kereta Api Logistik (Kalog), menyerbu Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Dia mengaku menyadari hal demikian terjadi, setelah akhir 2015 mendapatkan 48 perusahaan baru masuk bergabung di Organda Tanjung Perak dengan membawa angkutan baru 1.164 unit. Saat ini jumlah angkutan terdaftar di Organda menjadi 9.146 unit dari 330 perusahaan. Hampir semua PT baru merupakan operator trailer atau angkutan petikemas.

“Sejak ada kereta api petikemas Surabaya-Jakarta (PP) semakin banyak trailer kehilangan muatan. Kondisi ini masih akan terus terjadi. Kami sudah merasakan dampaknya. Jumlah anggota dan unit di Perak terus bertambah. Angkutan petikemas diperkirakan masih bisa bertahan dengan muatan jarak pendek atau door to door,” kata Kody.

Kody mengaku tidak bisa berbuat banyak. Karena tidak ada undang-undang maupun peraturan pemerintah yang membatasi atau melarang usaha angkutan masuk di Tanjung Perak. Yang bisa dia lakukan hanya menyerukan supaya berbisnis secara sehat dan tidak membanting tarif. “Saat ini tarif angkutan darat di Perak sudah mencapai Rp 850/ton/km. Ini merupakan titik tarif terendah. Mestinya tarif normal Rp 1.500/ton/km,” katanya.

Akibat jumlah angkutan lebih banyak dibanding muatan, tambah Kody, pihaknya juga menerima data terbaru, Kamis (7/1/2016) yang menyatakan 32 perusahaan angkutan di Tanjung Perak bangkrut. Jumlah angkutannya sekitar 500 unit. “Kemungkinan mereka tidak mampu bertahan dengan persaingan yang semakin ketat. Bisa juga tidak bisa meremajakan armada. Karena tidak memiliki cukup modal. Akhirnya, pelanggan pindah ke perusahaan lain dengan armada baru,” tambah Kody.

 

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*